memahami spektrum autisme dan ragam kebutuhan belajar anak di sekolah

Memahami Spektrum Autisme dan Ragam Kebutuhan Belajar Anak di Sekolah

by | Oct 14, 2026

SLBN PCB — Setiap anak datang ke sekolah dengan karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi semakin penting untuk dipahami ketika sekolah mendampingi anak dalam spektrum autisme. Anak dengan autisme tidak memiliki satu pola kemampuan yang seragam.

Ada anak yang memiliki kemampuan bahasa sangat baik tetapi mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, ada yang membutuhkan dukungan komunikasi yang intensif, sementara anak lainnya dapat mengikuti pembelajaran akademik dengan baik tetapi memerlukan penyesuaian terhadap rangsangan sensorik dan perubahan rutinitas.

Karena itu, memahami spektrum autisme dan kebutuhan belajar anak merupakan langkah penting bagi guru, orang tua, tenaga kependidikan, dan lingkungan sekolah. Pemahaman yang tepat membantu sekolah melihat anak secara utuh, bukan hanya berdasarkan diagnosis atau perilaku tertentu.

Autism spectrum disorder atau gangguan spektrum autisme merupakan kondisi perkembangan yang berkaitan dengan perbedaan dalam komunikasi dan interaksi sosial serta adanya pola perilaku, aktivitas, atau minat yang terbatas dan berulang. Cara kondisi tersebut muncul sangat beragam. CDC juga menjelaskan bahwa individu dengan autisme dapat memiliki cara belajar, bergerak, dan memusatkan perhatian yang berbeda.

Perbedaan tersebut membuat kebutuhan pendidikan seorang anak tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan label autisme. Sekolah perlu mengenali profil individual setiap peserta didik agar dukungan yang diberikan benar-benar relevan.

Apa yang Dimaksud dengan Spektrum Autisme?

Istilah “spektrum” menunjukkan adanya keragaman karakteristik dan tingkat dukungan yang dibutuhkan oleh individu dengan autisme.

Ada anak yang mampu berkomunikasi menggunakan kalimat kompleks dan mengikuti pembelajaran akademik sesuai tuntutan kelas, tetapi mengalami kesulitan memahami aturan sosial yang tidak tertulis. Ada pula anak yang menggunakan komunikasi alternatif atau membutuhkan bantuan intensif untuk menyampaikan keinginan.

Perbedaan juga dapat terlihat pada kemampuan kognitif, bahasa, motorik, perhatian, pengelolaan emosi, kemandirian, serta respons terhadap lingkungan.

Dengan demikian, dua anak yang sama-sama berada dalam spektrum autisme belum tentu memerlukan strategi pembelajaran yang sama.

Sekolah perlu menghindari anggapan bahwa satu metode akan cocok untuk seluruh peserta didik dengan autisme.

Mengapa Kebutuhan Belajar Anak dengan Autisme Beragam?

Keragaman kebutuhan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Profil perkembangan, kemampuan komunikasi, pengalaman pendidikan, lingkungan keluarga, kondisi sensorik, kemampuan kognitif, serta adanya kondisi penyerta dapat memengaruhi pengalaman anak di sekolah.

CDC mencatat bahwa kemampuan individu dengan autisme dapat sangat bervariasi. Sebagian orang memiliki kemampuan percakapan yang maju, sedangkan sebagian lainnya tidak menggunakan komunikasi verbal; sebagian membutuhkan banyak bantuan dalam kehidupan sehari-hari, sementara yang lain hanya membutuhkan sedikit dukungan.

Karena itu, sekolah sebaiknya tidak menggunakan pendekatan berdasarkan asumsi.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Apa yang dapat dilakukan anak? Apa yang menjadi hambatan? Dukungan seperti apa yang membantu anak belajar?

Pertanyaan tersebut mengarahkan perhatian guru kepada kebutuhan aktual peserta didik.

1. Kebutuhan Belajar dalam Aspek Komunikasi

Komunikasi menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan.

Sebagian anak dapat berbicara dengan lancar, tetapi mungkin mengalami kesulitan dalam percakapan dua arah, memahami bahasa figuratif, membaca konteks sosial, atau menyesuaikan cara berbicara dengan situasi.

Anak lain mungkin memiliki kemampuan bahasa yang lebih terbatas dan membutuhkan dukungan visual, gestur, gambar, perangkat komunikasi, atau sistem komunikasi alternatif dan augmentatif.

Guru perlu memastikan bahwa kemampuan berbicara tidak dijadikan satu-satunya ukuran kemampuan memahami pelajaran.

Seorang anak mungkin memahami konsep yang diajarkan tetapi memiliki cara berbeda dalam menyampaikan jawaban.

Instruksi Perlu Dibuat Jelas

Instruksi yang terlalu abstrak atau memiliki banyak makna dapat membingungkan sebagian peserta didik.

Guru dapat menggunakan bahasa yang konkret, kalimat singkat, contoh langsung, gambar pendukung, atau demonstrasi.

Misalnya, daripada mengatakan “bersiaplah dengan baik”, guru dapat menjelaskan langkah yang dimaksud: menyimpan buku, mengambil alat tulis, membuka halaman tertentu, lalu menghadap ke depan.

Struktur seperti ini membuat ekspektasi menjadi lebih mudah dipahami.

2. Kebutuhan dalam Pemrosesan Informasi

Anak dalam spektrum autisme dapat memiliki cara berbeda dalam memproses informasi.

Sebagian anak lebih mudah memahami informasi visual dibandingkan penjelasan verbal panjang. Sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses pertanyaan sebelum memberikan jawaban.

Guru perlu memberikan waktu tunggu yang memadai dan tidak buru-buru menyimpulkan bahwa anak tidak memahami materi hanya karena belum segera memberikan respons.

Informasi juga dapat diberikan melalui kombinasi penjelasan verbal, gambar, contoh, benda konkret, demonstrasi, dan aktivitas langsung.

Pendekatan visual menjadi salah satu unsur yang sering digunakan dalam strategi pendidikan untuk autisme. CDC mencatat bahwa pendekatan pendidikan seperti TEACCH menggunakan struktur yang konsisten dan pembelajaran visual, termasuk penggunaan rutinitas yang dapat ditulis atau digambarkan dan ditempatkan di lokasi yang mudah dilihat.

3. Kebutuhan terhadap Struktur dan Rutinitas

Sebagian anak dengan autisme merasa lebih mudah mengikuti kegiatan ketika rutinitas sekolah dapat diprediksi.

Perubahan mendadak, pergantian guru, perubahan ruang kelas, atau perubahan jadwal dapat menjadi tantangan.

Hal tersebut bukan berarti sekolah tidak boleh melakukan perubahan. Sebaliknya, perubahan dapat dikenalkan secara bertahap dengan pemberitahuan yang jelas.

Guru dapat menggunakan jadwal visual yang menggambarkan urutan kegiatan harian.

Contohnya:
Datang → menyimpan tas → kegiatan awal → pelajaran → istirahat → pelajaran berikutnya → persiapan pulang.

Jadwal tersebut dapat membantu anak mengetahui apa yang sudah dilakukan dan kegiatan apa yang akan berlangsung berikutnya.

4. Kebutuhan Sensorik di Lingkungan Sekolah

Aspek sensorik merupakan bagian penting dalam memahami kebutuhan belajar sebagian anak dengan autisme.

Suara yang keras, cahaya tertentu, keramaian, sentuhan, bau, tekstur, atau rangsangan visual yang terlalu banyak dapat memengaruhi kenyamanan dan kemampuan anak mengikuti kegiatan.

CDC mencatat bahwa individu dengan autisme dapat menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap suara, bau, rasa, tampilan, atau sensasi tertentu.

Guru tidak perlu langsung menganggap respons terhadap rangsangan sebagai perilaku mengganggu.

Sekolah dapat mengidentifikasi pemicu tertentu dan mencari penyesuaian yang aman serta realistis.

Menata Lingkungan Kelas

Kelas dapat dibuat lebih terstruktur dengan area belajar yang jelas, pengaturan tempat duduk yang sesuai, serta pengurangan rangsangan yang tidak diperlukan.

Jika anak mudah terganggu oleh suara, guru dapat mempertimbangkan posisi duduk tertentu atau menyediakan area yang lebih tenang ketika diperlukan.

Penyesuaian harus tetap mempertimbangkan kebutuhan seluruh kelas agar anak tidak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan teman.

5. Kebutuhan dalam Pembelajaran Akademik

Autisme tidak secara otomatis menentukan tingkat kemampuan akademik seorang anak.

Ada anak yang unggul dalam matematika, membaca, teknologi, mengingat fakta, atau bidang tertentu. Ada pula yang membutuhkan dukungan lebih besar dalam literasi, numerasi, pemahaman konsep, atau keterampilan akademik dasar.

Karena itu, guru perlu melakukan pemetaan kemampuan.

Materi dapat disajikan dalam langkah yang lebih kecil apabila anak mengalami kesulitan memahami tugas yang kompleks. Sebaliknya, jika anak sudah menguasai materi tertentu, guru dapat memberikan tantangan yang sesuai agar kemampuan tidak berhenti berkembang.

Gunakan Kekuatan Anak sebagai Pintu Masuk Belajar

Minat khusus yang dimiliki anak dapat digunakan sebagai jembatan pembelajaran.

Misalnya, jika anak sangat tertarik pada kendaraan, guru dapat menggunakan tema tersebut untuk mengajarkan konsep matematika, membaca, menulis, sains, atau pengelompokan.

Pendekatan ini membuat materi lebih dekat dengan minat anak tanpa membatasi pengalaman belajar hanya pada satu topik.

6. Kebutuhan dalam Interaksi Sosial

Interaksi sosial dapat menjadi salah satu area yang membutuhkan dukungan.

Sebagian anak mungkin ingin bermain bersama teman tetapi tidak memahami cara memulai percakapan. Anak lainnya mungkin kesulitan mengikuti aturan permainan kelompok atau memahami ekspresi dan bahasa tubuh.

Guru dapat mengajarkan keterampilan sosial secara eksplisit.

Contohnya adalah bagaimana meminta bantuan, bergantian berbicara, mengajak teman bermain, menunggu giliran, menerima perubahan aturan permainan, atau mengakhiri percakapan.

Keterampilan tersebut sebaiknya tidak hanya dijelaskan secara abstrak, tetapi dapat dilatih melalui simulasi, permainan peran, contoh konkret, dan aktivitas kelompok.

7. Kebutuhan dalam Pengelolaan Emosi

Anak dengan autisme dapat mengalami kesulitan mengenali, mengomunikasikan, atau mengatur emosi dalam situasi tertentu.

Perubahan rutinitas, tugas yang sulit, lingkungan yang terlalu ramai, atau kesulitan berkomunikasi dapat meningkatkan tekanan pada anak.

Sekolah perlu memahami tanda-tanda awal ketika anak mulai mengalami kesulitan mengatur emosi.

Guru dapat membantu anak mengenali emosi dan menyediakan strategi yang sesuai, misalnya meminta jeda, menggunakan kartu komunikasi, berpindah sementara ke area yang lebih tenang, atau menggunakan rutinitas regulasi yang telah disepakati.

Pendekatan tersebut lebih konstruktif dibandingkan hanya memberikan hukuman terhadap perilaku yang muncul ketika anak sedang mengalami tekanan.

8. Kebutuhan terhadap Transisi Antarkegiatan

Perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain sering kali membutuhkan perhatian khusus.

Anak mungkin sudah sangat fokus pada suatu kegiatan sehingga kesulitan berhenti ketika guru meminta beralih ke aktivitas berikutnya.

Peringatan sebelum transisi dapat membantu.

Guru dapat mengatakan bahwa kegiatan akan selesai dalam beberapa menit, kemudian memberikan tanda visual atau verbal ketika waktu perpindahan tiba.

Jika perubahan jadwal harus dilakukan, anak dapat diberi informasi mengenai perubahan tersebut dengan cara yang mudah dipahami.

Strategi ini dapat mengurangi ketidakpastian dan membantu anak menyesuaikan diri.

9. Kebutuhan terhadap Pembelajaran yang Konsisten

Konsistensi tidak berarti semua kegiatan harus selalu sama.

Yang dimaksud adalah adanya pola yang dapat diprediksi dalam cara guru memberikan instruksi, mengelola tugas, menggunakan simbol, dan menyampaikan aturan.

Jika hari ini guru menggunakan satu simbol untuk menandai “selesai” dan besok simbol tersebut memiliki arti berbeda, anak mungkin mengalami kebingungan.

Karena itu, guru dan tenaga pendukung sebaiknya menyepakati strategi yang digunakan secara bersama.

Konsistensi antarlingkungan sekolah juga penting. Strategi yang digunakan guru kelas sebaiknya dapat dikomunikasikan kepada guru mata pelajaran atau tenaga pendukung yang berinteraksi dengan anak.

10. Kebutuhan terhadap Akomodasi Pembelajaran

Akomodasi dapat membantu mengurangi hambatan yang tidak berkaitan langsung dengan kompetensi yang hendak dipelajari.

Bentuknya dapat berbeda-beda, misalnya:

  • instruksi tertulis dan visual;
  • pembagian tugas menjadi beberapa tahap;
  • waktu tambahan jika diperlukan;
  • pengaturan tempat duduk;
  • penggunaan alat bantu komunikasi;
  • penyesuaian lingkungan sensorik;
  • jadwal visual;
  • pilihan cara menunjukkan pemahaman;
  • kesempatan melakukan jeda sesuai kebutuhan.

Akomodasi tidak berarti menurunkan kemampuan yang diharapkan dari anak.

Tujuannya adalah memberikan akses yang lebih sesuai sehingga anak dapat menunjukkan kemampuan sebenarnya.

11. Kebutuhan terhadap Pengajaran yang Terstruktur

Pembelajaran terstruktur dapat membantu anak memahami apa yang harus dilakukan, kapan kegiatan dimulai, berapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan apa yang terjadi setelahnya.

Guru dapat membuat tugas dengan tampilan yang sederhana dan tidak terlalu padat.

Misalnya, satu lembar kerja panjang dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian memiliki tujuan yang jelas dan dapat diselesaikan secara bertahap.

Struktur semacam ini juga membantu guru memantau perkembangan anak.

12. Kebutuhan terhadap Evaluasi yang Fleksibel

Evaluasi harus mempertimbangkan tujuan pembelajaran.

Jika guru ingin mengetahui pemahaman konsep, bentuk respons dapat dipertimbangkan agar hambatan komunikasi atau motorik tidak menjadi satu-satunya faktor yang menentukan hasil.

Misalnya, anak dapat menjawab dengan menunjuk, menggunakan kartu pilihan, mengetik, berbicara, atau menulis, sesuai kemampuan dan rancangan pembelajaran.

Namun, bentuk evaluasi tetap harus menjaga validitas. Penyesuaian tidak boleh menghilangkan kompetensi inti yang memang hendak diukur.

13. Peran Guru dalam Memahami Profil Anak

Guru merupakan salah satu pihak yang paling sering mengamati perilaku belajar anak.

Pengamatan tersebut dapat digunakan untuk mencatat:

  • aktivitas yang membuat anak terlibat;
  • situasi yang memicu kesulitan;
  • cara instruksi yang paling mudah dipahami;
  • media yang paling membantu;
  • pola interaksi dengan teman;
  • kemampuan menyelesaikan tugas;
  • kebutuhan dukungan dalam transisi;
  • strategi yang berhasil dan tidak berhasil.

Data tersebut lebih bermanfaat daripada sekadar mencatat bahwa anak “sulit diatur” atau “tidak fokus”.

Catatan yang spesifik membantu sekolah membuat keputusan pendidikan yang lebih objektif.

14. Peran Orang Tua dalam Mendukung Pembelajaran

Orang tua memiliki pengetahuan mengenai kebiasaan dan perkembangan anak di luar sekolah.

Komunikasi dengan keluarga dapat memberikan informasi mengenai cara anak berkomunikasi, minat yang dimiliki, strategi yang efektif, perubahan perilaku, serta kebutuhan yang mungkin belum terlihat di sekolah.

Sebaliknya, guru dapat menyampaikan perkembangan anak dalam konteks akademik dan sosial.

Kerja sama tersebut penting karena kebutuhan anak tidak berhenti ketika jam sekolah selesai.

15. Pentingnya Asesmen Individual

Asesmen individual membantu sekolah memahami kekuatan dan kebutuhan peserta didik secara lebih spesifik.

Diagnosis dapat menjadi informasi penting, tetapi tidak cukup untuk menentukan seluruh strategi pembelajaran.

Dua anak dengan diagnosis yang sama dapat mempunyai kemampuan bahasa, kognitif, sensorik, sosial, dan kemandirian yang berbeda.

Karena itu, hasil observasi, asesmen pendidikan, komunikasi dengan keluarga, serta informasi dari tenaga profesional dapat dipertimbangkan secara bersama.

CDC menjelaskan bahwa evaluasi perkembangan untuk autisme dapat melibatkan lebih dari satu profesional dan hasilnya dapat membantu mengidentifikasi kekuatan serta tantangan anak.

16. Jangan Menyamakan Autisme dengan Tingkat Kecerdasan

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah menganggap diagnosis autisme secara otomatis menunjukkan tingkat kecerdasan tertentu.

Kemampuan kognitif individu dalam spektrum autisme sangat beragam. Ada yang memiliki kemampuan akademik tinggi pada bidang tertentu, ada yang berada pada rentang kemampuan yang berbeda, dan ada yang membutuhkan dukungan intensif.

Guru perlu menilai kemampuan anak berdasarkan performa nyata, bukan asumsi.

Jika seorang anak memiliki kemampuan unggul dalam bidang tertentu, sekolah perlu menyediakan ruang agar kemampuan tersebut dapat berkembang.

17. Jangan Memaksa Anak Mengikuti Satu Cara Belajar

Pembelajaran yang efektif tidak selalu berarti anak harus belajar dengan cara yang sama seperti mayoritas teman sekelas.

Jika seorang anak lebih mudah memahami konsep melalui visual, gunakan visual sebagai salah satu jalur pembelajaran.

Jika anak lebih mudah belajar melalui praktik, berikan pengalaman konkret.

Jika anak membutuhkan pengulangan, berikan kesempatan tersebut tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk mempermalukan anak.

Perbedaan cara belajar merupakan bagian dari kebutuhan pendidikan yang perlu dikelola secara profesional.

18. Gunakan Minat Khusus Secara Strategis

Minat khusus dapat menjadi kekuatan dalam pembelajaran.

Guru dapat menggunakan topik yang disukai anak untuk meningkatkan motivasi, tetapi tetap memperluas materi secara bertahap.

Misalnya, ketertarikan terhadap angka dapat digunakan untuk mengembangkan matematika, tetapi guru juga dapat menggunakannya sebagai pintu masuk menuju membaca instruksi, menulis penjelasan, atau memecahkan masalah sehari-hari.

Dengan pendekatan tersebut, minat anak bukan menjadi batas, melainkan sarana untuk membuka pengalaman belajar yang lebih luas.

19. Bangun Lingkungan Kelas yang Inklusif

Lingkungan kelas perlu membuat anak merasa menjadi bagian dari kelompok.

Inklusi bukan sekadar menempatkan anak dengan autisme di ruang kelas yang sama dengan teman sebaya. Anak juga perlu memiliki kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan, berkomunikasi, bekerja sama, dan menunjukkan kemampuannya.

Guru dapat membuat aktivitas kelompok dengan pembagian peran yang jelas.

Teman sebaya juga dapat diberikan pemahaman mengenai keberagaman dengan bahasa yang sesuai usia, tanpa menjadikan seorang anak sebagai bahan pembicaraan atau objek perhatian.

20. Perhatikan Kekuatan, Bukan Hanya Hambatan

Pendekatan pendidikan yang hanya berfokus pada masalah dapat membuat sekolah kehilangan kesempatan melihat potensi anak.

Guru dapat mencatat kekuatan seperti kemampuan mengingat, ketelitian, minat terhadap pola, kemampuan visual, ketekunan pada topik tertentu, kemampuan teknologi, kreativitas, atau keunggulan akademik tertentu.

Kekuatan tersebut kemudian dapat digunakan untuk merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Pendekatan yang berorientasi pada kekuatan tidak berarti mengabaikan kebutuhan dukungan. Hambatan tetap perlu ditangani, tetapi anak juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya.

Tabel Ragam Kebutuhan Belajar Anak dalam Spektrum Autisme

Area kebutuhanKemungkinan tantanganDukungan yang dapat dipertimbangkan
KomunikasiSulit memahami instruksi atau menyampaikan kebutuhanBahasa konkret, visual, alat komunikasi
SensorikSensitif terhadap suara, cahaya, tekstur, atau keramaianPenyesuaian lingkungan dan area tenang
AkademikKesulitan mengikuti tugas tertentuTugas bertahap dan media yang sesuai
SosialKesulitan memahami aturan interaksiPemodelan, latihan sosial, kerja kelompok terstruktur
TransisiSulit menghadapi perubahan kegiatanJadwal visual dan peringatan sebelum perubahan
EmosiSulit mengenali atau mengatur emosiStrategi regulasi dan komunikasi kebutuhan
OrganisasiKesulitan mengikuti urutan kegiatanChecklist, jadwal, dan rutinitas
KemandirianMembutuhkan bantuan dalam aktivitas tertentuLatihan bertahap dan dukungan yang dikurangi secara perlahan

Tabel tersebut bukan resep yang berlaku untuk semua anak. Setiap bentuk dukungan perlu disesuaikan dengan hasil pengamatan dan kebutuhan individual.

Ketika Perilaku Menjadi Cara Berkomunikasi

Di lingkungan sekolah, perilaku tertentu terkadang langsung dianggap sebagai masalah disiplin.

Padahal, perilaku dapat menjadi cara anak menyampaikan bahwa ia mengalami kesulitan.

Anak yang menolak tugas mungkin tidak memahami instruksi. Anak yang menutup telinga mungkin mengalami ketidaknyamanan terhadap suara. Anak yang meninggalkan tempat duduk mungkin membutuhkan jeda atau mengalami kesulitan mempertahankan keterlibatan.

Hal tersebut tidak berarti semua perilaku harus diterima tanpa batas. Sekolah tetap membutuhkan aturan yang jelas.

Namun, guru dapat mencoba memahami fungsi di balik perilaku sebelum menentukan respons.

Pendekatan ini membantu sekolah memilih strategi yang lebih tepat daripada hanya memberikan hukuman.

Menyiapkan Dukungan untuk Perubahan Jenjang Sekolah

Kebutuhan anak dapat berubah ketika berpindah dari PAUD ke SD, dari SD ke SMP, atau dari SMP ke jenjang berikutnya.

Lingkungan yang semakin kompleks dapat membawa tuntutan baru dalam organisasi, interaksi sosial, akademik, mobilitas, dan kemandirian.

Karena itu, persiapan transisi sebaiknya dilakukan sebelum perubahan jenjang terjadi.

Informasi mengenai strategi yang efektif, bentuk komunikasi, kebutuhan sensorik, alat bantu, serta kekuatan anak dapat diteruskan kepada pendidik berikutnya dengan tetap memperhatikan privasi dan kepentingan anak.

Dukungan pendidikan untuk anak dengan autisme juga tidak berhenti pada masa kanak-kanak. CDC menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan karena kebutuhan dapat berubah ketika individu memasuki masa remaja dan dewasa.

Memahami Spektrum Autisme melalui Pengalaman Belajar Anak

Memahami spektrum autisme di sekolah berarti melihat lebih jauh daripada diagnosis.

Guru perlu memahami bagaimana anak menerima informasi, bagaimana ia berkomunikasi, apa yang membuatnya nyaman atau kewalahan, bagaimana ia berinteraksi, bagaimana ia menyelesaikan tugas, dan dukungan apa yang membuatnya semakin mandiri.

Pendekatan tersebut memungkinkan sekolah merancang pembelajaran yang lebih individual sekaligus tetap mempertahankan kesempatan anak untuk belajar bersama teman sebaya.

Ketika sekolah mampu memadukan struktur, fleksibilitas, dukungan komunikasi, penyesuaian sensorik, strategi akademik, penguatan kekuatan anak, dan kerja sama dengan keluarga, kebutuhan belajar peserta didik dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Dalam praktik sehari-hari, pemahaman tersebut dapat dimulai dari hal sederhana: mengamati anak, mendengarkan kebutuhannya, mengenali kekuatannya, mencatat hambatan yang muncul, dan menyesuaikan pembelajaran berdasarkan informasi tersebut.

Baca juga:

Tinggalkan komentar

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Dapatkan pemberitahuan informasi kegiatan, berita, dan artikel langsung ke email inbox anda. Gratis!